Minggu, 24 April 2011

7 Kalimat dari Salib - (7) Kalimat Ketujuh





Oleh Pdt. Budi Asali, M.Div








Luk 23:46 - “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya.
 
Mat 27:50 - “Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawaNya”.
Mark 15:37 - “Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawaNya (EXEPNEUSEN).
Yoh 19:30 - “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya.
 



‘nyawa’ (Mat 27:50  Luk 23:46a Yoh 19:30) ® ‘roh’ (Yunani: PNEUMA).
 
‘menyerahkan nyawaNya’ (Mark 15:37 Luk 23:46b) ® EXEPNEUSEN.
 
EXEPNEUSEN ® EKPNEO ® PNEUMA.
 

I) Ini merupakan kalimat ke 7 dan yang terakhir di kayu salib.

 
1) Ada 7 kalimat yang Yesus ucapkan di kayu salib.
 
Jamieson, Fausset & Brown: pasti ada sesuatu yang sangat menyolok dalam fakta bahwa Tuhan kita mengucapkan pada kayu salib persis 7 kalimat - bilangan yang seluruh Kitab Suci ajarkan kepada kita untuk dianggap sebagai bilangan yang keramat dan sempurna; dan pada waktu kita memperhatikan bahwa dari Empat Penginjil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) tidak seorangpun yang melaporkan seluruhnya, tetapi setiap orang dari mereka memberikan beberapa / sebagian dari 7 kalimat itu, kita tidak bisa tidak melihat pada mereka - bersama Bengel - sebagai 4 suara yang bersama2 membentuk satu Simfoni yang besar / agung.
 
2) Kalimat ini merupakan bagian dari Kitab Suci (Perjanjian Lama).
 
Maz 31:6 - Ke dalam tanganMulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia”.
 
Matthew Henry: Ia meminjam kata2 ini dari nenek moyangNya, Daud (Maz 31:6); bukan bahwa Ia butuh kata2 untuk diletakkan ke dalam mulutNya, tetapi Ia memilih untuk menggunakan kata2 Daud untuk menunjukkan bahwa adalah Roh Kristus yang bersaksi dalam nabi2 PL, dan bahwa Ia datang untuk menggenapi Kitab Suci. Kristus mati dengan Kitab Suci di mulutNya. Demikianlah Ia mengarahkan kita untuk menggunakan bahasa / kata2 dari Kitab Suci dalam berbicara kepada Allah.
 
Barnes: ini tidak membuktikan bahwa mazmur itu dari semula mempunyai hubungan dengan Dia, atau bahwa Ia memaksudkan untuk menunjukkan bahwa kata-kata itu dari semula merupakan suatu nubuat. Bahasa / kata2 itu cocok bagi Dia, seperti itu cocok bagi semua orang lain pada saat kematian; dan penggunaan kata2 ini olehNya memberikan ilustrasi tertinggi tentang kecocokan kata2 itu pada saat itu. Tindakan dari si pemazmur merupakan tindakan dari keyakinan yang kuat kepada Allah di tengah2 bahaya dan kesukaran; tindakan dari sang Juruselamat merupakan tindakan yang sifatnya sama, menyerahkan rohNya kepada Allah pada saat yang khidmat dari kematian.
 
Perbedaan Daud dan Yesus, dalam mengucapkan kata2 ini:
 
a)  Yesus menambahkan kata ‘Bapa’, yang tidak ada dalam Maz 31:6.
 
b) Daud mengucapkan kata2 itu supaya ia luput dari kematian. Kristus mengucapkan kata-kata itu bukan supaya diluputkan dari kematian.
 
c)  Daud mengucapkan kata-kata itu pada saat ia sedang ada dalam kesukaran. Kristus mengucapkan kata-kata itu, setelah kesukaran yang Ia alami lewat.
 
Lenski: Karena itu, kecocokan kata2 Daud pada pihak Yesus harus dimengerti hanya dalam arti yang terbatas, dan tidak boleh ditekankan melebihi batasan yang sempit ini.
 

II) Kematian yang sengaja dan sukarela dari Yesus.

 
1) Ayat2 di atas mengatakan bahwa Yesus ‘menyerahkan nyawa / rohNya’.
 
a)      KematianNya merupakan tindakan aktif.
 
Kata2 Yesus berbeda dengan kata2 Stefanus: “Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kis 7:59).
 
Arthur W. Pink: Keunikan dari tindakan Tuhan kita bisa terlihat dengan membandingkan kata2Nya di kayu salib dengan kata2 dari Stefanus yang sedang sekarat. Pada waktu martir Kristen pertama itu sampai di tepi sungai, ia berseru: ‘Tuhan Yesus, terimalah rohku’ (Kis 7:59). Tetapi kontras dengan ini Kristus berkata: ‘Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan rohKu’. Roh Stefanus diambil dari dia. Tidak demikian dengan sang Juruselamat. Tidak seorangpun bisa mengambil nyawaNya dari Dia. Ia ‘menyerahkan’ rohNya.
 
b)      Ia mati karena kehendakNya sendiri.
 
Bdk. Yoh 10:17-18 - “(17) Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. (18) Tidak seorangpun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari BapaKu.’”.
 
William Hendriksen: Ia menyerahkannya. Tidak seorangpun yang mengambilnya dari Dia. Ia menyerahkan nyawaNya.
 
A. T. Robertson mengutip kata2 Agustinus: “He gave up his life because he willed it, when he willed it, and as he willed it” (= Ia menyerahkan nyawaNya karena Ia menghendakinya, pada saat Ia menghendakinya, dan sebagaimana Ia menghendakinya).
 
Arthur W. Pink: Kematian Kristus merupakan sesuatu yang bersifat supra natural. Dengan ini kami memaksudkan bahwa kematianNya itu berbeda dengan setiap kematian yang lain. Dalam segala hal Ia mempunyai keunggulan. KelahiranNya berbeda dengan semua kelahiran yang lain. KehidupanNya berbeda dengan semua kehidupan yang lain. Dan kematianNya berbeda dengan semua kematian yang lain. Ini dengan jelas ditunjukkan dalam ucapanNya sendiri tentang hal ini - ‘Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. (18) Tidak seorangpun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali’ (Yoh 10:17-18).
 
Adam Clarke: “as giving up the spirit, ghost, or soul, is an act not proper to man, though commending it to God, in our last moments, is both an act of faith and piety; and as giving up the ghost, i. e. dismissing his spirit from his body, is attributed to Jesus Christ, to whom alone it is proper, I therefore object against its use in every other case” (= karena penyerahan roh atau jiwa bukanlah suatu tindakan yang cocok bagi manusia, sekalipun tindakan mempercayakannya kepada Allah, pada saat terakhir kita, merupakan suatu tindakan iman dan kesalehan; dan karena penyerahan roh, yaitu pembubaran / pembebasan rohNya dari tubuhNya, dihubungkan dengan Yesus Kristus, bagi siapa itu cocok, maka karenanya saya menentang penggunaannya dalam setiap kasus yang lain).
 
Wycliffe: Semua Injil sinoptik menunjukkan bahwa kematian Kristus bukanlah karena kehabisan tenaga karena penyaliban, tetapi merupakan suatu penyerahan yang sukarela dari nyawaNya.
 
Leon Morris: Yohanes melanjutkan ‘dan menyerahkan nyawa / rohNya’. Ini bukan suatu cara yang biasa untuk menunjuk pada kematian. Dalam keempat Injil tidak ada ungkapan biasa untuk menggambarkan cara kematian dari Yesus. HubunganNya dengan kematian tidaklah sama dengan hubungan orang-orang lain dengan kematian. Mungkin terlalu jauh untuk mengatakan bahwa Ia ‘membubarkan rohNya’, tetapi memang kelihatannya ada suatu unsur kesengajaan / kesukarelaan yang tidak ditemukan dalam kasus orang2 lain.
 
2) Kata2 ‘menyerahkan nyawa / roh’ itu bukan merupakan imperfect tense, tetapi aorist tense.
 
Wycliffe: ‘Menyerahkan rohNya’. Kata Yunaninya adalah EXEPNEUSEN ... Itu bukanlah suatu pergumulan yang berkepanjangan, seperti seandainya digunakan imperfect tense untuk menggambarkan hal itu. Sebaliknya, digunakan aorist / past tense yang menggambarkan suatu kejadian yang singkat / sebentar. Ia menghembuskan rohNya dan pergi.
 
3) Ia mengucapkan kata-kata dalam Luk 23:46 itu dengan suara nyaring.
 
Luk 23:46 - “Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya”.
 
A. T. Robertson: Yesus tidak mati karena pelan2 kehabisan tenaga, tetapi dengan teriakan yang nyaring.
 
Arthur W. Pink: Mengapa Roh Kudus memberitahu kita bahwa sang Juruselamat mengucapkan teriakan yang dahsyat itu ‘dengan suara yang nyaring’? ... Bukankah ini menunjukkan bahwa kekuatanNya belum meninggalkanNya? bahwa Ia masih tetap merupakan tuan dari diriNya sendiri, dan bukannya dikalahkan oleh kematian, tetapi Ia hanya menyerahkan diriNya sendiri kepada kematian itu?
 
4) Ia menundukkan kepalaNya, lalu menyerahkan nyawa / rohNya.
 
Yoh 19:30 - “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya.
 
a)      Ia menundukkan kepala dengan sengaja.
 
Arthur W. Pink: Apa yang dimaksudkan untuk kita pelajari dari kata2 ini? Apa yang ditunjukkan di sini oleh tindakan sang Juruselamat ini? Jelas bahwa jawabannya tidak usah dicari terlalu jauh. Maksud / pengertiannya jelas. Sebelum ini kepala Tuhan kita tetap tegak. Itu bukanlah seorang penderita yang tidak bertenaga yang tergantung di sana dengan lemah. Seandainya itu merupakan kasusnya maka kepalaNya telah bersandar tak berdaya di dadaNya, dan adalah tidak mungkin bagiNya untuk menundukkannya. Dan perhatikanlah dengan penuh perhatian kata kerja yang digunakan di sini: bukan bahwa kepalaNya ‘jatuh’, tetapi Ia, dengan sadar, dengan pelan2 / tenang, dengan hormat, menundukkan kepalaNya.
 
b) Ia menundukkan kepala dulu, baru menyerahkan nyawa / roNya.
 
Matthew Henry: ‘Ia menundukkan kepalaNya’. Mereka yang disalibkan, pada saat mati menjulurkan kepala mereka ke atas untuk mengambil nafas, dan tidak menjatuhkan kepala mereka sampai mereka telah menghembuskan nafas terakhir mereka; tetapi Kristus, untuk menunjukkan diriNya sendiri aktif dalam matiNya, menundukkan kepalaNya lebih dulu, menyusun / mengatur tubuhNya sendiri, seakan2 jatuh tertidur.
 
Matthew Henry: Allah telah meletakkan padaNya kejahatan kita sekalian, meletakkannya pada kepala dari Korban agung ini; dan beberapa orang menganggap bahwa dengan menundukkan kepalaNya ini Ia menunjukkan perasaanNya tentang berat dari beban itu padaNya.
 
5) Bukti2 dari bagian2 lain dari Kitab Suci:
 
a)  Pada waktu Ia tahu bahwa waktunya sudah tiba bagiNya untuk mati, Ia sengaja pergi ke Yerusalem (Mat 16:21-24).
 
b) Pada waktu ditangkap, Ia tidak melawan / lari (Yoh 18:1-11).
 
c)  KematianNya yang terjadi begitu ‘cepat’ (hanya dalam 6 jam) pada waktu disalibkan, sehingga membuat Pontius Pilatus menjadi heran (Mark 15:44).
 

III) Hal-hal theologis berkenaan dengan kematian Yesus.

 
1) Ini menunjukkan roh / jiwa tetap ada pada saat terpisah dari tubuh.
 
Matthew Henry: Dengan ini terlihat bahwa Tuhan kita Yesus, sebagaimana Ia mempunyai tubuh yang sungguh2, demikian juga Ia mempunyai jiwa yang bisa berpikir, yang tetap ada dalam keadaan terpisah dari tubuh.
 
Adam Clarke: Bukti yang lain dari jiwa yang bukan bersifat materi, dan tentang keberadaannya yang terpisah pada waktu tubuh mati.
 
2) Kematian Yesus tidak mempengaruhi persatuan LOGOS dengan hakekat manusia Yesus.
 
Lenski: Kematian Yesus tidak mempengaruhi dengan cara apapun persatuan Logos dengan hakekat manusia. Kematian ini hanya mempengaruhi hakekat manusia, karena olehNya saja Anak bisa mati. Anak Allah mati dalam hakekat manusiaNya, dan hanya dalam hakekat manusia saja.
 
3) Kematian Kristus ini sudah ditetapkan dalam rencana kekal dari Allah.
 
Arthur W. Pink: Kematian Yesus bersifat preter-natural. Dengan ini kami memaksudkan bahwa hal itu telah ditandai dan ditentukan bagiNya sebelumnya. Ia adalah Anak Domba yang disembelih sebelum dunia dijadikan (Wah 13:8). Sebelum Adam diciptakan, kejatuhan ke dalam dosa telah diantisipasi. Sebelum dosa masuk ke dalam dunia, keselamatan dari dosa telah direncanakan oleh Allah. Dan rencana kekal Allah ditentukan lebih dulu bahwa harus ada seorang Juruselamat bagi orang2 berdosa, seorang Juruselamat yang harus mati supaya kita bisa hidup. ... Dengan memandang pada Kematian yang mendekat inilah Allah ‘dengan adil membiarkan dosa2 yang terjadi dahulu’ (Ro 3:25). Seandainya dalam perhitungan Allah, Kristus bukanlah Anak Domba yang telah disembelih sejak penciptaan dunia, maka setiap orang yang berbuat dosa dalam jaman PL akan sudah turun ke neraka pada saat ia berbuat dosa!
 
Wah 13:8 (KJV): ‘And all that dwell upon the earth shall worship him, whose names are not written in the book of life of the Lamb slain from the foundation of the world (= Dan semua yang diam di bumi akan menyembahnya, yang nama-namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan dari Anak Domba yang disembelih sejak penciptaan dunia).
 
Ro 3:25 - “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darahNya. Hal ini dibuatNya untuk menunjukkan keadilanNya, karena Ia telah membiarkan dosa2 yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaranNya”.
 
4) Yesus adalah Anti Type dari anak domba Paskah.
 
Luk 23:44-46 - “(44) Ketika itu hari sudah kira2 jam 12, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, (45) sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua. (46) Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya”.
 
Kel 12:6 - “Kamu harus mengurungnya sampai hari yang ke 14 bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja.
 
1Kor 5:7b - “Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.
 
6) Yesus memang harus betul2 mati untuk memikul hukuman dosa yaitu kematian / maut.
 
Pulpit Commentary: peristiwa yang paling mengagumkan / menakjubkan, menyedihkan, dan penting, yang telah disaksikan oleh dunia ini. Makhluk / Orang yang adalah ‘hidup’ menundukkan kepalaNya dalam kematian.
 
Matthew Henry: Bahwa lalu Ia menyerahkan rohNya. ... JiwaNya terpisah dari tubuhNya, dan dengan demikian tubuhNya ditinggalkan dan betul-betul mati. Adalah pasti bahwa Ia memang mati, karena memang dibutuhkan bahwa Ia harus mati; ... Kematian merupakan hukuman dari pelanggaran dari perjanjian pertama (pastilah engkau mati), sang Pengantara dari perjanjian yang baru harus membuat penebusan dengan cara / melalui kematian, karena kalau tidak, maka tidak ada pengampunan, Ibr 9:15.
 
Ibr 9:15 - “Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggara yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama.
 
Kej 2:17 - “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.’”.
 
George Hutcheson: Kematian, dan tidak kurang dari kematian, merupakan upah dari dosa; karena itu, setelah penderitaan-penderitaan sebelumnya, Penanggung kita juga perlu untuk menyerahkan rohNya, untuk menyelesaikan pekerjaanNya.
 
George Hutcheson: Kristus, dengan mengalami kematian jasmani bagi umatNya, telah dengan ini membeli, sehingga bagaimanapun mereka harus mati, tetapi kematian itu bukanlah hukuman dosa bagi mereka; karena penderitaan kematianNya telah mengambil sengat dari kematian itu.
 
Ibr 2:14-15 - “(14) Karena anak2 itu adalah anak2 dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.
   

Amin



Tidak ada komentar:

Posting Komentar