Jumat, 22 April 2011

7 Kalimat dari Salib - (5) Kalimat Kelima





Oleh Pdt. Budi Asali, M.Div








Yoh 19:28 - “Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci -: ‘Aku haus!’”.
 
Yoh 19:28-30 - “(28) Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci - : ‘Aku haus!’ (29) Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. (30) Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya”.
 



Sesuatu yang perlu diperhatikan bahwa dalam Kitab Suci diceritakan 2 x pemberian minum kepada Yesus. Yang pertama Ia tolak, yang kedua Ia terima. Matius dan Markus menceritakan kedua pemberian minum tersebut, tetapi Yohanes hanya menceritakan pemberian minum yang kedua.
 
Mark 15:23,36a - “(23) Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepadaNya, tetapi Ia menolaknya. ... (36a) Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum”.
 
Mat 27:34,48 - “(34) Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya. ... (48) Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum”.
 

I) Yesus menolak minuman.

 
Dalam Mat 27:34 dikatakan bahwa Yesus diberi minum ‘anggur bercampur empedu’, dan dalam Mark 15:23 dikatakan bahwa Yesus diberi ‘anggur bercampur mur’. Ini bukan kontradiksi, karena minuman itu adalah anggur bercampur ramuan tertentu, yang mengandung baik empedu maupun mur.
 
Pulpit Commentary: “‘They offered him wine, mixed with narcotic gall,’ to stupefy his senses and lull his physical agony” (= ‘Mereka menawarkan Dia anggur, dicampur dengan empedu narkotik’, untuk membius perasaannya dan meredakan penderitaan fisikNya) - hal 425.
 
Adam Clarke: “This vinegar must not be confounded with the vinegar and gall mentioned Matt. 27:34, and Mark 15:23. That, being a stupifying potion, intended to alleviate his pain, he refused to drink; but of this he took a little, and then expired, ver. 29” (= Cuka / anggur asam ini tidak boleh dicampur-adukkan dengan cuka / anggur dan empedu yang disebutkan dalam Mat 27:34 dan Mark 15:23. Itu, karena merupakan obat / minuman pembius yang dimaksudkan untuk mengurangi rasa sakit, Ia tolak untuk minum; tetapi yang ini Ia meminumnya sedikit, dan lalu mati, ay 29) - hal 653.
 
Adam Clarke: “Some person, out of kindness, appears to have administered this to our blessed Lord; but he, as in all other cases, determining to endure the fulness of pain, refused to take what was thus offered to him” (= Beberapa orang, karena kebaikan, kelihatannya memberikan ini kepada Tuhan kita yang diberkati / terpuji; tetapi Ia, seperti dalam semua kasus yang lain, memutuskan untuk menahan rasa sakit sepenuhnya, menolak untuk meminum apa yang ditawarkan kepadaNya) - hal 273.
 
Bdk. Amsal 31:6-7 - “(6) Berikanlah minuman keras itu kepada orang yang akan binasa, dan anggur itu kepada yang susah hati. (7) Biarlah ia minum dan melupakan kemiskinannya, dan tidak lagi mengingat kesusahannya”.
 
Tetapi pada saat Yesus mengecap minuman itu, dikatakan bahwa Ia tidak mau meminumNya. Mengapa? Padahal sebentar lagi Ia minta minum (Yoh 19:28 - ‘Aku haus’), dan mau meminum minuman yang diberikan kepadaNya (Mark 15:36  Yoh 19:29-30). Beberapa penafsir mengatakan bahwa Ia tidak mau meminum anggur bercampur empedu / mur itu, karena itu adalah minuman yang mengandung ramuan yang bisa membius / mengurangi rasa sakit, dan diberikan kepada orang yang disalib sebagai suatu tindakan belas kasihan kepada mereka.
KetidakmauanNya menerima pengurangan rasa sakit / penderitaan merupakan sesuatu yang aneh. Orang kristen yang sejati, seharusnya mempunyai keyakinan keselamatan, dan karena itu mestinya tidak takut mati. Tetapi siapa yang tidak takut pada penderitaan / rasa sakit yang hebat? Siapa yang pada waktu mengalami rasa sakit yang hebat tidak menginginkan rasa sakitnya dikurangi? Kalau saudara pergi ke dokter gigi untuk dicabut giginya, atau kalau saudara akan dioperasi, tentu saudara senang menerima pembiusan supaya tidak mengalami rasa sakit.
Lalu mengapa Yesus tidak mau rasa sakit / penderitaanNya dikurangi? Karena Ia sadar bahwa saat itu Ia sedang memikul hukuman dosa manusia, termasuk hukuman dosa saudara dan saya. Dan Ia ingin memikul seluruh hukuman dosa manusia!
Andaikata saja pada saat itu Yesus mau meminum minuman bius itu, dan rasa sakitNya berkurang, katakanlah 10 %, maka itu berarti Ia hanya memikul 90 % hukuman dosa saudara dan saya. Tahukah saudara apa akibatnya? Saudara boleh saja betul-betul percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi hanya 90 % dari dosa-dosa saudara yang ditebus / dibayar oleh Yesus. Sedangkan 10 % sisanya, saudara harus menanggungnya sendiri. Kalau hal ini terjadi, maka renungkanlah 2 hal di bawah ini:
 
1)   10 % dari dosa kita itu luar biasa banyaknya.
Kalau saudara menganggap diri saudara itu baik, atau kalau saudara beranggapan bahwa jumlah dosa saudara cuma ratusan atau ribuan, maka itu disebabkan saudara tidak mengerti Firman Tuhan, yang merupakan standard Allah untuk menentukan dosa. Kalau saja saudara mengerti Firman Tuhan, dan saudara membandingkannya dengan hidup saudara, maka saya yakin saudara akan menemui berjuta-juta dosa.
Kalau kita menyoroti hukum Tuhan yang berbunyi ‘Jangan berdusta’ saja, maka berapa dosa yang saudara temukan dalam hidup saudara? Mulai saat saudara masih kecil sampai sekarang, berapa kali saudara berdusta kepada orang tua, kakek / nenek, guru di sekolah, teman, kakak / adik, teman kerja / rekan bisnis, langganan, pejabat pemerintahan, pegawai, bahkan kepada pengemis (dengan berkata ‘tidak punya uang’ padahal saudara punya)? Hanya dari satu hukum itu saja, sudah sukar menghitung jumlah dosa saudara! Bagaimana kalau ditambahkan dengan hukum-hukum yang lain, seperti jangan berzinah, jangan mencuri, jangan iri hati, hormatilah orang tuamu, hukum hari sabat, hukum antara suami istri, dsb? Bagaimana kalau ditambahkan lagi hukum-hukum yang dianggap ‘tidak masuk akal’, seperti:
·        Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, pikiran, akal budi (Mat 22:37).
·        Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat 22:39).
·        Kasihilah musuhmu, doakan orang yang menganiaya kamu (Mat 5:44).
·        Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan (Ro 12:17,21).
·        Bersukacitalah senantiasa (1Tes 5:16).
·        Mengucap syukurlah dalam segala hal (1Tes 5:18).
Karena itu 10 % dari dosa kita pastilah luar biasa banyaknya. Kalau dosa kita jumlahnya 1 juta, maka 10 % dari dosa kita berarti 100.000 dosa!
 
2)   Satu dosa sudah cukup untuk memasukkan diri saudara ke dalam neraka sampai selama-lamanya!
Ada agama lain yang mengatakan bahwa nanti pada akhir jaman perbuatan baik dan dosa setiap orang akan ditimbang; kalau lebih berat dosanya maka orangnya dimasukkan neraka, dan kalau lebih berat perbuatan baiknya maka orangnya akan dimasukkan surga. Ditinjau dari sudut agama lain itu, maka mungkin masih ada kemungkinan saudara akan masuk surga kalau saudara memikul sendiri 10 % dosa saudara. Tetapi Kitab Suci / Firman Tuhan tidak mengajar demikian! Ro 6:23 mengatakan bahwa “upah dosa ialah maut”! Jadi, tidak dikatakan kalau dosanya banyak / besar / lebih banyak dari perbuatan baiknya, barulah upahnya maut! Hanya dikatakan bahwa upah dosa ialah maut, dan itu berarti bahwa satu dosa saja sudah cukup untuk membawa saudara kedalam neraka sampai selama-lamanya!
Mengapa demikian? Karena Kitab Suci / Firman Tuhan mengajar bahwa perbuatan baik tidak bisa menutup dosa (Gal 2:16,21). Memang, kalau saudara ditangkap polisi karena melanggar peraturan lalu lintas dan akan menghadapi persidangan, bisakah saudara lalu berbuat baik dengan harapan perbuatan baik saudara itu menyebabkan saudara tidak didenda dalam pengadilan? Jelas tidak mungkin! Jadi, hukum duniapun mengata-kan bahwa perbuatan baik tidak bisa menutup dosa. Dan demikian juga ajaran dari Kitab Suci / Firman Tuhan! Karena itulah maka satu dosa saja sudah cukup untuk membuat saudara masuk neraka sampai selama-lamanya!
 
Sekarang, bagaimana kalau kita gabungkan 2 hal di atas ini? 10 % dari dosa saudara bukan main banyaknya, sedikitnya ada 100.000 dosa. Padahal satu dosa saja sudah cukup membuang saudara ke dalam neraka sampai selama-lamanya. Bagaimana kalau saudara harus menanggung 100.000 dosa atau bahkan lebih dari itu?
Karena itu, andaikata Yesus mau meminum minuman yang mengandung ramuan bius itu, pasti seluruh umat manusia, mulai dari Adam sampai kiamat, termasuk saudara dan saya, akan masuk neraka sampai selama-lamanya!
Tetapi puji Tuhan, Yesus menolak minuman yang mengandung ramuan bius itu! Ia tidak mau memikul hanya sebagian atau 90 % hukuman dosa kita; Ia mau memikul seluruhnya atau 100 % hukuman dosa kita!!
 

II) Yesus minta minum.

 
1)   Yesus minta minum, dengan berkata ‘Aku haus’ (Yoh 19:28).
Setelah Yesus menolak minuman bius itu, Ia lalu disalibkan. Dan pada waktu ada di kayu salib, Ia berkata: ‘Aku haus’ (Yoh 19:28).
 
2)   Yesus memang sangat kehausan, karena:
a)   Ia sudah ditawan sejak kemarin malam, dan sebagai tawanan Ia pasti tidak diperlakukan dengan baik. Jadi mungkin sekali Ia tidak diberi makanan ataupun minuman. Ini tentu menyebabkan Ia menjadi haus.
b)   Ia digiring kesana kemari (kepada Mahkamah Agama, kepada Pontius Pilatus, kepada Herodes, kembali kepada Pontius Pilatus, dsb). Perjalanan ini tentu menambah kehausan Yesus.
c)   Ia dicambuki dan dipukuli dan dimahkotai dengan duri. Semua ini menimbulkan luka-luka yang mengeluarkan darah / cairan tubuh sangat banyak, dan ini juga pasti menimbulkan kehausan yang luar biasa.
d)   Ia harus memikul kayu salib yang cukup berat sejauh kurang lebih 1 km. Ini pasti menyebabkan Ia mengeluarkan banyak keringat, dan ini menambah kehausanNya.
e)   Ia disalibkan mulai pukul 9 pagi (Mark 15:25). Memang mulai pukul 12 siang terjadi kegelapan (Mark 15:33), tetapi mulai pukul 9 pagi sampai pukul 12 siang Ia boleh dikatakan dijemur di panas matahari yang terik.
 
Semua hal di atas ini sudah pasti memberikan kehausan kepada Yesus, dan ini bukanlah kehausan biasa, tetapi suatu kehausan yang bukan main hebatnya. Dan semua ini sesuai dengan nubuat Maz 22:16 yang berbunyi: “lidahku melekat pada langit-langit mulutku” (Catatan: bacalah seluruh Maz 22 itu, khususnya ay 2,8-9,17b,19 dan saudara akan melihat dengan jelas bahwa itu adalah Mazmur tentang salib).
Bahwa Maz 22:16 itu menggunakan istilah ‘lidah yang melekat pada langit-langit mulut’, jelas menunjukkan kehausan yang luar biasa, dimana seluruh mulut betul-betul kering sehingga lidah melekat pada langit-langit.
 
A. T. Robertson: “Thirst is one of the severest agonies of crucifixion” (= ).
 
Barnes’ Notes: “Thirst was one of the most distressing circumstances attending the crucifixion. The wounds were highly inflamed, and the raging fever was caused usually by the sufferings on the cross, and this was accompanied by insupportable thirst” (= Kehausan adalah salah satu keadaan yang paling membuat menderita yang menyertai penyaliban. Luka-luka itu meradang dengan hebat, dan demam yang tinggi biasanya terjadi oleh penderitaan-penderitaan pada salib, dan ini disertai / diiringi oleh kehausan yang tak tertahankan) - hal 354.
 
3)   Mengapa Yesus harus mengalami kehausan? Tidak cukupkah penderitaan cambuk dan salib yang Ia alami? Mengapa Kristus masih harus mengalami kehausan?
 
a)         Karena hal itu sudah dinubuatkan dalam:
·        Maz 22:16 - ‘lidahku melekat pada langit-langit mulutku’.
·        Maz 69:22b - ‘pada waktu aku haus mereka memberi aku minum anggur asam’.
 
b)   Supaya orang berdosa yang mengalami kehausan yang tak terpuaskan bisa terpuaskan dalam Kristus.
 
Spurgeon: “We know from experience that the present effect of sin in every man who indulges in it is thirst of soul. The mind of man is like the daughters of the horseleech, which cry for ever ‘Give, give.’ Metaphorically understood, thirst is dissatisfaction, the craving of the mind for something which it has not, but which it pines for. Our Lord says, ‘If any man thirst, let him come unto me and drink,’ that thirst being the result of sin in every ungodly man at this moment. Now Christ standing in the stead of the ungodly suffers thirst as a type of his enduring the result of sin” (= Kami mengetahui dari pengalaman bahwa akibat saat ini dari dosa dalam setiap orang yang menuruti keinginan hatinya dalam dosa adalah kehausan dari jiwa. Pikiran manusia adalah seperti saudari dari lintah, yang terus berteriak ‘Berilah, berilah’. Dimengerti secara kiasan, kehausan adalah ketidak-puasan, keinginan dari pikiran untuk sesuatu yang tidak dipunyainya, tetapi yang diharapkannya. Tuhan kita berkata: ‘Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum’, kehausan itu merupakan akibat dari dosa dalam setiap orang yang jahat pada saat ini. Sekarang Kristus yang berdiri di tempat orang-orang jahat, menderita kehausan sebagai suatu simbol dari pemikulan akibat dosa) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol VI, hal 562.
 
William Hendriksen: “the emphasis is on the infinite love of the Lord, revealed in being willing to suffer burning thirst in order that for his people he might be the everlasting fountain of living water” (= penekanannya adalah pada kasih yang tak terbatas dari Tuhan, dinyatakan dalam kerelaanNya untuk menderita / mengalami kehausan yang membakar supaya Ia bisa menjadi sumber yang kekal dari air hidup bagi umatNya) - hal 434.
 
c)   Karena dosa pertama-tama masuk ke dalam dunia melalui mulut, maka pemberesan dosa juga harus berurusan dengan mulut.
Spurgeon: “See, brethren, where sin begins, and mark that there it ends. It began with the mouth of appetite, when it was sinfully gratified, and it ends when a kindred appetite is graciously denied. Our first parents plucked forbidden fruit, and by eating slew the race. Appetite was the door of sin, and therefore in that point our Lord was put to pain. With ‘I thirst’ the evil is destroyed and receives its expiation. ... A carnal appetite of the body, the satisfaction of the desire for food, first brought us down under the first Adam, and now the pang of thirst, the denial of what the body craved for, restores us to our place” (= Lihatlah, saudara-saudara, dimana dosa mulai, dan tandailah bahwa di sana dosa berakhir. Dosa dimulai dengan mulut yang ingin makan, dan pada saat itu dipuaskan secara berdosa, dan dosa berakhir pada saat nafsu makan yang sama ditolak dengan kasih karunia. Orang tua pertama kita memetik buah terlarang, dan dengan memakannya membunuh umat manusia. Nafsu makan adalah pintu dari dosa, dan karena itu dalam hal itu Tuhan kita disakiti. Dengan kata-kata ‘Aku haus’ kejahatan dihancurkan dan mendapatkan penebusannya. ... Nafsu makan yang bersifat daging dari tubuh, pemuasan dari keinginan akan makanan, mula-mula membawa kita turun di bawah Adam pertama, dan sekarang rasa sakit dari kehausan, penyangkalan dari apa yang sangat diinginkan oleh tubuh, memulihkan kita ke tempat kita) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol VI, hal 562.
Catatan: saya memberikan pandangan Spurgeon di sini, hanya karena saya merasa bahwa pandangannya merupakan sesuatu yang menarik. Tetapi saya tidak yakin apakah pandangannya ini benar atau tidak.
 
d)   Supaya kita yang percaya tidak perlu masuk ke neraka dan mengalami kehausan yang kekal.
Spurgeon: “thirst will also be the eternal result of sin, for he says concerning the rich glutton, ‘In hell he lift up his eyes, being in torment,’ and his prayer, which was denied him, was, ‘Father Abraham, send Lazarus, that he may dip the tip of his finger in water and cool my tongue, for I am tormented in this flame.’ Now recollect, if Jesus had not thirsted, every one of us would have thirsted for ever afar off from God, with an impassable gulf between us and heaven. Our sinful tongues, blistered by the fever of passion, must have burned for ever had not his tongue been tormented with thirst in our stead” (= kehausan juga akan menjadi akibat kekal dari dosa, karena Ia berkata tentang orang kaya yang rakus, ‘Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut / neraka ia memandang ke atas’, dan doanya, yang tidak dikabulkan, adalah: ‘Bapa Abraham, suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini’. Sekarang ingatlah bahwa seandainya Yesus tidak mengalami kehausan, setiap kita akan mengalami kehausan selama-lamanya terpisah dari Allah, dengan jurang yang tak terseberangi antara kita dengan surga. Lidah-lidah kita yang berdosa, melepuh / kepanasan oleh demam dari nafsu / penderitaan, harus terbakar selama-lamanya, seandainya lidahNya tidak disiksa oleh kehausan di tempat kita / menggantikan kita) - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol VI, hal 562-563.
 
Matthew Henry: “The torments of hell are represented by a violent thirst in the complaint of the rich man that begged for a drop of water to cool his tongue. To that everlasting thirst we had been condemned, had not Christ suffered for us” (= ).
 
Bdk. Luk 16:23-24 - “Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
 
Karena Yesus saat ini sedang memikul seluruh hukuman dosa manusia, maka jelas bahwa Ia harus memikul juga kehausan yang luar biasa yang seharusnya kita alami di neraka.
 
4)   Satu hal yang harus dipertanyakan adalah: Apakah dengan meminta minum dan mendapatkannya ini penderitaanNya tidak berkurang sehingga Ia tidak memikul 100 % hukuman dosa kita?
Ada 3 hal yang perlu diberikan sebagai jawaban:
 
a)         Yesus meminta minum dengan tujuan supaya Firman Tuhan digenapi.
Perhatikan Yoh 19:28 yang berbunyi: “berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci - ‘Aku haus!’.
Kitab Suci yang mana? Jawabnya adalah Maz 69:22b yang berbunyi: “Pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam”. Ingat bahwa ini juga merupakan suatu nubuat yang berhubungan dengan Mesias / Yesus. Karena itu, tidak bisa tidak nubuat ini harus digenapi.
 
Adam Clarke: “‘I thirst.’ The scripture that referred to his drinking the vinegar is Psa. 69:21. The fatigue which he had undergone, the grief he had felt, the heat of the day, and the loss of blood, were the natural causes of this thirst. This he would have borne without complaint; but he wished to give them the fullest proof of his being the Messiah, by distinctly marking how everything relative to the Messiah, which had been written in the prophets, had its complete fulfilment in him (= ).
 
Maz 69:22 - “Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.
KJV: ‘They gave me also gall for my meat; and in my thirst they gave me vinegar to drink’ (= ).
 
Dalam tafsirannya tentang Yoh 19:28-37, J. C. Ryle berkata sebagai berikut: “Three several predictions are specially mentioned, in Exodus, Psalms, and Zechariah, which received their accomplishment at the cross. Others, as every well-informed Bible-reader knows, might easily be added. All combine to prove one and the same thing. They prove that the death of our Lord Jesus Christ at Golgotha was a thing foreseen and predetermined by God. Hundreds of years before the crucifixion, every part of the solemn transaction was arranged in the Divine counsels, and the minutest particulars were revealed to the Prophets. From first to last it was a thing foreknown, and every portion of it was in accordance with a settled plan and design. In the highest fullest sense, when Christ died, He ‘died according to the Scriptures.’ (1Cor. 15:3)” (= ) - ‘Expository Thoughts on the Gospels’, (John volume III), hal 353.
 
J. C. Ryle: “We need not hesitate to regard such fulfilments of prophecy as strong evidence of the Divine authority of God’s Word. The Prophets foretell not only Christ’s death, but the particulars of His death. This shows their inspiration. It is impossible to explain so many accomplishments of predicted circumstances upon any other theory. To talk of luck, chance, and accidental coincidence, as sufficient explanation, is preposterous and absurd. The only rational account is the inspiration of God. The Prophets who foretold the particulars of the crucifixion, were inspired by Him who foresees the end from the beginning; and the books they wrote under His inspiration ought not to be read as human compositions, but Divine. Great indeed are the difficulties of all who pretend to deny the inspiration of the Bible. It really requires more unreasoning faith to be an infidel than to be a Christian. The man who regards the repeated fulfilments of minute prophecies about Christ’s death, such as the prophecies about His dress, His thirst, His pierced side, and His bones, as the result of chance, and not of design, must indeed be a credulous man” (= ) - ‘Expository Thoughts on the Gospels’, (John volume III), hal 353-354.
 
b)   Kristus minta minum supaya Ia bisa meneriakkan kata-kata ‘Sudah selesai’ (ay 30), yang mempunyai arti sangat penting bagi kita, supaya kita tahu tentang kesempurnaan penebusan Kristus bagi dosa kita.
Tanpa minuman itu, mulut, lidah, dan tenggorokan Yesus yang sangat kering karena kehausan yang luar biasa itu, tidak akan bisa mengucapkan kata-kata itu.
 
William Hendriksen: “It has been suggested that Jesus desired to slake his agonizing thirst in order to be able to utter the loud cry recorded in Luke 23:46 ... It is possible, but the text does not say anything to this effect” (= Telah diusulkan bahwa Yesus ingin memuaskan kehausannya yang menyakitkan supaya bisa mengucapkan teriakan keras yang dicatat dalam Luk 23:46 ... Itu mungkin, tetapi textnya tidak mengatakan apapun yang artinya seperti itu) - hal 434.
 
c)   Ia minta minum setelah Ia tahu bahwa semua sudah selesai.
Perhatikan sekali lagi ay 28 yang berbunyi: “Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia - supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci - : ‘Aku haus’”.
 
Jadi, setelah penebusan yang Ia lakukan sudah cukup untuk menebus dosa kita, barulah Ia berkata ‘Aku haus’. Perhatikan kata-kata Calvin di bawah ini:
“Now, it ought to be remarked, that Christ does not ask any thing to drink till all things have been accomplished ... No words can fully express the bitterness of the sorrows which he endured; and yet he does not desire to be freed from them, till the justice of God has been satisfied, and till he has made a perfect atonement” (= Harus diperhatikan, bahwa Kristus tidak meminta minum apapun sampai semua telah selesai / tercapai ... Tidak ada kata-kata yang dapat menyatakan secara penuh kesedihan yang ditahanNya; tetapi Ia tidak ingin dibebaskan darinya, sampai keadilan Allah telah dipuaskan, dan sampai Ia telah membuat penebusan yang sempurna).
 
Tetapi bagaimana mungkin penebusan dosa sudah selesai, padahal Ia belum mengalami kematian? Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ‘sudah selesai’ adalah penderitaan aktifNya dalam memikul hukuman dosa. Tetapi Calvin berkata bahwa Kristus mengucapkan kata-kata ‘Sudah selesai’ itu dengan memperhitungkan kematianNya yang akan segera terjadi.
 
Calvin: But how does he say, that all things were accomplished, while the most important part still remained to be performed, that is, his death? Besides, does not his resurrection contribute to the accomplishment of our salvation? I answer, John includes those things which were immediately to follow. Christ had not yet died: and had not yet risen again; but he saw that nothing now remained to hinder him from going forward to death and resurrection” (= ).
 
 
 
-AMIN-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar