Jumat, 25 Februari 2011

Siapakah Hamba Tuhan yang Baik ?

Oleh Pdt. Dr. Stephen Tong

II Korintus 4 : 1 – 2

(1)  Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.  (2)  Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.


Terjemahan lain :  Oleh kemurahan Allah kami menerima pelayanan ini. Karenanya, kami tidak takut, tapi kami menolak segala perbuatan yang tersembunyi, yang memalukan. Kami tidak melakukan kelicikan, tidak menyampaikan firman Tuhan dengan sembrono melainkan menyatakan kebenaran. Dengan begitu, di hadapan Allah, kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan di dalam hati nurani setiap orang.


Kesimpulan dari kedua ayat itu adalah : Siapakah hamba Tuhan yang baik?


1. Jelas akan panggilan Tuhan.

Dari zaman ke zaman, kita tak pernah menemukan seorang hamba Tuhan yang sejati, yang jelas akan panggilan Tuhan atas dirinya. Waktu kami studi di Sekolah Teologia, sekolah pernah mengadakan pembaharuan: seorang dosen mengatakan, jika kau tidak jelas akan panggilan Tuhan atas dirimu, sekarang juga, kau boleh angkat kaki. Selama beberapa hari itu, setiap pengkhobah membahas panggilan Tuhan. Bombardir lewat mimbar itu sempat mengakibatkan beberapa orang meninggalkan sekolah. Salah seorang adik kelas saya yang juga sekamar dengan saya menangis, berpuasa empat puluh hari, hanya minum saja, karena dia pernah menyerahkan diri melayani Tuhan, tapi belum begitu yakin menjadi hamba Tuhan itu panggilan Tuhan atau keinginan dirinya, diapun menggumuli hal itu dengan serius. Empat puluh hari kemudian, dia makan, tertawa….seperti sediakala, saya tanyakan padanya “bagaimana jawaban doamu?” “saya sudah jelas akan panggilan Tuhan”. Dengan kekuatan itulah dia melayani puluhan tahun dengan setia sampai dia pensiun. Inilah satu fakta; kesaksian yang saya saksikan. Sayangnya: dia pensiun saat usianya belum genap enam puluh tahun. Saya tidak tahu apa sebabnya, tapi selama puluhan tahun saya tak pernah mendengar orang mencela pelayanannya. Itulah penghiburan, kekuatan yang kita terima dari orang yang jelas akan panggilan Tuhan. Maka saya minta para wisudawan yang hari ini diwisuda untuk menggumuli panggilan kalian, sampai kalian bisa mengatakan pada Tuhan: Engkaulah yang memanggil saya. Dr. Andrew Gih pernah berkata, jika saya sudah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Tuhan, tapi akhirnya saya dibuang oleh Tuhan, saya adalah orang yang paling kasian di dunia. Paulus berkata, jangan sampai aku mengabarkan Injil pada orang, tapi diriku sendiri dibuang oleh Tuhan.


2. Tidak tawar hati ; tidak takut.

Point pertama – jelas akan panggilan Tuhan menghasilkan point kedua: dalam hidupmu sebagai pelayan Tuhan, kamu tidak pernah merasa takut baik pada raja maupun konglomerat. Saya baru saja mengatakan di Semarang, pendeta yang menggoyang ekor saat bertemu orang kaya adalah anjing, bukan pendeta. Ada banyak pendeta kompromi saat dia melihat uang, banyak sekolah teologi kehilangan kuasa; tidak berani menegur dosa, karena dana mereka berasal dari gereja-gereja yang ajarannya salah. Maka saya tanyakan pada mereka, kalian mendirikan sekolah untuk uang atau untuk kebenaran? Kalau sekolah kalian didirikan untuk membesarkan Tuhan, memperluas kerajaan Tuhan, meninggikan kebenaran, tak boleh ada unsur apapun yang mengubah niat kalian menjadi hamba Tuhan.

Mensius, filsuf tersohor kedua di sejarah Tiongkok mengatakan, seorang gentleman memiliki tiga hal:
a. Saat miskin tidak mengubah niat,
b. Saat kaya tidak tergoda untuk berzinah atau melakukan penyelewengan apapun,
c. Saat berhadapan dengan penguasa tidak bertekuk lutut.

Entah mengapa, beberapa tahun belakangan ini saya enggan mengajar di Sekolah Teologi, bukan karena saya tidak memandang penting hal itu, tapi saya tahu, ada banyak orang yang studi di Sekolah Teologia hanya mengejar SKS; gelar, tidak menuntut kuasa dari Tuhan, setia pada kebenaran, mengasihi jiwa-jiwa yang tersesat. Saya ragu, apakah kelak mereka bisa menjadi hamba Tuhan yang sejati. Di zaman Elia, ada ribuan orang studi di sekolah nabi, tapi Allah tidak memakai seorangpun diantara mereka, malah menyuruh Elia mengurapi Elisa meneruskan pelayanannya. Pendidikan akademis memang penting, tapi ada perkara yang lebih penting dari pengertian yang didapat dari buku, teori-teori manusia; sikap kita.


3. Buang segala perkara yang kau lakukan secara sembunyi-sembunyi.

Selama saya melayani Tuhan, saya perhatikan, ada enam orang yang begitu bertalenta, fasih lidah, berpengetahuan, bertitel, tapi tak punya kuasa dalam pelayanannya, akhirnya saya temukan, empat diantara enam orang tersebut menyimpan perkara yang tersembunyi; yang memalukan, namun akhirnya, satu persatu perkara itu terbongkar, merekapun dibuang oleh gereja. Sungguh sayang sekali. Itu sebabnya saya menegaskan, mari kita – pendeta, penginjil, majelis , guru sekolah minggu; setiap orang yang melayani Tuhan, dengan tangan yang suci kita melayani Tuhan yang suci, dengan mulut yang suci kita memberitakan firman yang suci, dengan otak yang suci kita memikirkan kebenaran yang suci, dengan kaki yang suci menginjak mimbar yang suci. Dr. Andrew Gih pernah memberi contoh, seorang kaya pulang ke rumahnya, dia melihat mangkoknya yang terbuat dari emas, piringnya terbuat dari perak, cangkirnya ada yang terbuat dari emas, ada yang dari perak tembaga dan dari tanah liat yang murah. Waktu dia ingin minum, dia memperhatikan bahwa cawan emas, perak dan tembaganya kotor, hanya cawan yang terbuat dari tanah liatlah yang bersih, cawan mana yang dia pakai? Cawan yang bersih. Contoh itu sangat sederhana, tapi benar-benar menyatakan isi hati Tuhan. Kata Paulus, singkirkan perkara yang najis dari dirimu, jadilah suci, supaya layak dipakai oleh Tuhan. Tuhan berkata pada Yeremia, tinggalkan segala perkara yang rendah, rindukanlah perkara yang suci, yang anggun. Aku akan memakaimu sebagai penyambung lidahKu (bahasa Ibrani berarti nabi).


4. Tidak berlaku licik.

Ini adalah perkara yang amat penting; jadilah orang yang jujur, tulus, luar dalamnya sama. Peribahasa Tionghoa mengatakan, orang licik hanya bisa menipu orang satu masa, tidak bisa menipu seumur hidup. Kejujuran adalah sikap yang membuktikan dirimu adalah hamba kebenaran, berani menyatakan kebenaran. Tuhan Yesus berkata, Father, sanctified them with the truth and Thy word is truth. Almarhum paman Joseph Tjakra, sebelum meninggal berkata, saya sering mendengar khotbah, saya tahu, semua khotbah itu benar, tapi mayoritas pengkhotbah hidupnya tidak benar. Saya menyimak, mengingatnya dan berkata, Tuhan, terima kasih untuk rahasia yang Kau bocorkan padaku sebelum hari penghakiman. Celakalah kita, kalau kita hanya mau dipuji. Karena kalimat penghakiman tidak akan kita dengar dalam pujian melainkan dalam kritikan orang yang mungkin tidak kita sukai. Mendengar statement itu, saya gentar dan berdoa pada Tuhan: saya ingin menjadi hambaNya yang beres dalam penyampaian firman, juga beres dalam hidup. Bagaimana kita bisa hidup dengan beres? Jujur di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia, perilaku kita di hadapan Tuhan dan di hadapan sesama : baik di dalam maupun di luar rumah, di dalam maupun di luar gereja tetap sama, perlakuan kita terhadap orang Kristen maupun non Kristen, orang kaya maupun orang miskin sama. Karena manusia dicipta menurut peta teladan Allah.


5. Tidak memalsukan Firman Tuhan.

Alkitab pernah menuliskan ayat yang ada kaitannya dengan memalsukan Firman Tuhan: ada orang yang menyelewengkan Firman Tuhan demi nafkah, Paulus menyebut mereka sebagai orang yang berkhotbah demi perut mereka. Ada orang yang menyelewengkan Firman Tuhan karena takut pada orang yang berkuasa yang sedang mendengar khotbahnya, Petrus pernah melakukan kesalahan itu. Waktu Paulus melihat Simon berpura-pura di tengah-tengah orang Yahudi, dia langsung menegurnya. Siapakah Paulus? Seorang junior. Siapakah Petrus? Seniornya. Bisakah seorang senior menerima teguran juniornya di hadapan umum? Tidak bisa. Tapi inilah contoh yang Alkitab berikan: ketika Petrus tua, dia menulis: tentang saudara kita yang terkasih, Paulus, firman yang dia terima dari Tuhan begitu dalam, jangan kamu menafsirkan dengan sembrono, supaya kamu jangan membinasakan diri sendiri. Saya kagum sekali akan Petrus, meski pernah ditegur oleh juniornya, dia tetap menjunjung tinggi si junior, memuji dia, mengutarakan kebaikannya. Inilah sikap Paulus saat melayani: tidak melakukan kelicikan, juga tidak memalsukan firman Tuhan. Permisi tanya, apakah kendala terbesar dari gereja-gereja zaman sekarang? Mimbar tidak lagi menyuarakan firman yang benar, hanya menyuarakan kesaksian pribadi, pengalaman yang aneh-aneh, tafsiran yang hebat tapi bukan yang Tuhan maksudkan. Kalau saya menitipkan sepucuk surat pada anda untuk rekan saya yang berada di tempat yang jauh, tetapi di tengah perjalanan, anda mengubah surat saya atau membubuhkan perkataan: menurut saya, bukan maksudnya begitu, tetapi begini. Itu berarti kau telah men-twisting, memanipulasi. Permisi tanya, bagaimana perasaan si pengirim surat? Itulah pertanggungjawaban yang saya tuntut dari zaman ini.

Mengapa John Calvin menjadi orang yang begitu agung? Karena dia tak mencampurkan filsafat; teori manusia di dalam penafsirannya. Itu sebabnya di Institute of Christian Religion terdapat enam ribuan kutipan ayat yang dia ambil dari Alkitab, dari bagian yang tidak diperhatikan orang, maka pengajaran yang dia sampaikan begitu konsisten, limpah, karena dia mendapatkannya dari Firman Tuhan yang begitu kaya tanpa mengenal kompromi. Dari muda sampai tua, tafsirannya memang luar biasa. Kecuali dalam satu hal, saat muda, dia anggap penginjilan sudah tiada; itulah kesalahan yang membawa gereja-gereja Presbiterian hampir tidak memproduksi penginjil. Tetapi di masa tuanya, dia menyadari kesalahan itu dan mengoreksinya, namun sudah tidak sanggup membawa manusia kembali pada ajaran yang lebih konkrit.  Paulus adalah seorang Teolog yang sering pergi ke pasar-pasar, menyeberangi lautan, mendaki pegunungan…untuk mengabarkan Injil. Sistem Teologi Barat sudah meracuni gereja, mendualismekan Teolog dan penginjilan. Hai, dosen-dosen di sekolah teologi, berapa orang yang sudah kau menangkan untuk Kristus? Teolog yang pergi ke pasar-pasar, ke jalan-jalan, ke sekolah, ke tempat-tempat dimana orang menentang Tuhan untuk mengabarkan Injil disana adalah Teolog yang benar. Penginjil-penginjil yang tidak mau Sekolah Teologi bagai seorang yang tahu menggunakan obat merah untuk menyembuhkan luka orang, menganggap dirinya bisa menyembuhkan segala penyakit. Apakah Paulus seorang Teolog? Ya. Apakah dia seorang penginjil? Ya. Bisakah Paulus hanya bisa dikategorikan dalam salah satunya saja? Tidak! Bahkan tidak mungkin. Tak seorangpun berhak mengatakan, saya tak perlu mengabarkan Injil, karena saya adalah seorang Teolog, saya harus mengantor dari jam delapan sampai jam empat sore. Karena penginjilan seharusnya adalah the way of your life; selama aku hidup, aku adalah saksi Kristus. Ada saatnya kita membesuk, ada saatnya kita memberitakan firman, ada saatnya kita berdebat dengan orang yang belum percaya, guna membawa mereka datang kepada Kristus. Teolog-teolog Barat yang meniru cara Paulus sedikit sekali. Suatu hari, seorang berkata “tahukah anda bahwa Cornelis Van Til (Teolog besar) setiap minggu sekali berdiri di jalan Manhattan, memberitakan Injil disana? Di usianya yang sudah lebih dari tujuh puluh empat tahun dia masih sering berdiri di beberapa jalan yang paling ramai di Manhattan, membagi-bagikan traktat, mengajak orang menerima Yesus”. Waktu saya diminta berkhotbah di Westminster Seminary, saya katakan, we Reformed people must not pre-suppose that we are only gifted in the defensive apologetics only, we should turn our attitude into the offensive evangelization and to evangelize people, to challenge the world to return to Jesus Christ. Paulus adalah orang yang tidak memalsukan firman Tuhan. Saat dia bertemu dengan para penatua Efesus di Miletus, katanya: tidak ada satu kalimat Tuhan yang ku simpan, tidak ku beritakan padamu. Kalimat itu membuat saya sangat terharu: selama kita hidup, masihkah kita menyembunyikan doktrin atau ajaran penting, yang tidak kita sampaikan pada orang? Apa sebabnya dulu saya selalu berkhotbah secara topical, tapi sejak mendirikan GRII saya berkhotbah secara ekspositori; membahas setiap ayat? Karena saya tidak menginginkan satu ayat dari Kitab yang kita bahas terlewati. Paulus berkata, tidak ada satu kalimat yang tidak aku sampaikan padamu. Seorang hamba Tuhan yang jujur seperti Paulus tidak melarikan diri dari tanggungjawabnya, menyampaikan seluruh isi hati Tuhan pada anak-anakNya.


6. Menyatakan kebenaran.

Menyatakan kebenaran berbeda dengan mengkhotbahkan kebenaran; mengkhotbahkan kebenaran adalah menyampaikan kebenaran dalam bentuk lisan, adapun menyatakan kebenaran adalah menyatakan hidup yang sepadan dengan kebenaran yang dia khotbahkan. Itu sebabnya Paulus mengatakan: yang kuberitakan adalah Kristus, hidupku adalah Kristus, maksudnya: Paulus menghidupkan Kristus yang dia beritakan dan juga memberitakan Kristus yang dia hidupkan dalam hidupnya; hidupnya menyatakan kebenaran Tuhan yang dia sampaikan di mimbar. Jadi, what they see and what they hear is the same; Jesus Christ magnified, Jesus Christ glorified.


7. Menyatakan diri di dalam hati nurani orang-orang.

Istilah hati nurani belum pernah muncul di Perjanjian Lama, tapi di Perjanjian Baru muncul kurang lebih 27 kali. Paulus berkata, kami memperkenalkan diri kami ke dalam hatimu bukan hanya di permukaan saja, maka dari se dalam-dalamnya hatimu kamu tahu; aku adalah hamba Tuhan. Inilah nasehat saya pada para wisudawan ; biarlah domba-domba yang kau gembalakan, dari sedalam-dalamnya hati nurani mereka berkata : kaulah hamba Tuhan. Meski mereka tidak mengucapkannya lewat mulut mereka, tapi hati mereka mengakui, kau adalah hamba Tuhan. Itu tandanya kau sudah mencapai point ke tujuh, kau adalah seorang hamba Tuhan yang baik. Musuh boleh membencimu, melawanmu, memfitnahmu, memakumu di atas kayu salib, tapi hati mereka tak bisa tidak mengakui kau adalah hamba Tuhan.

Biar kita tidak melewat hidup dengan sembrono. Salah seorang penyandang gelar M.Div di kelas saya di SAAT (Seminari Alkitab Asia Tenggara) tidak lagi dipakai Tuhan, karena dia sangat rajin studi tapi tidak rajin dalam menghadapi dosanya. Saya tidak ingin hal seperti itu terjadi pada kalian, saya mengharapkan anda sekalian yang di wisuda hari ini bertahan sampai Tuhan Yesus datang kembali. Maukah saudara? Ingat, yang memanggilmu adalah Tuhan, setialah padaNya. Ingat, kau dipanggil untuk melayani manusia, cintailah sesamamu. Ingat, kepadamu Tuhan mempercayakan kebenaran, peliharalah dengan baik. Ingat, dirimu adalah pemimpin, jadilah contoh yang baik. Ingat, suatu hari nanti, orang yang mendengar khotbahmu dan dirimu sendiri harus berdiri di hadapan Allah. Kiranya semua kita bisa bertahan dalam bergumul, mengalahkan segala pencobaan, setia sampai bertemu dengan Tuhan.


Sumber : http://foodforsouls.blogspot.com/2003/10/siapakah-hamba-tuhan-yang-baik.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar