Sabtu, 12 Juni 2010

Missions and Masturbation (Misi dan Masturbasi)

By John Piper, September 10, 1984

Masturbation is the experience of sexual orgasm produced by self-stimulation. Virtually every man and almost as many women have tried it. It is a regular practice of most single men.

Masturbasi adalah suatu tindakan pemuasan seksual yang dihasilkan dengan menstimulasi diri. Secara nyata, hampir setiap pria dan hampir sebagian besar wanita pernah mencobanya. Hal ini dilakukan secara teratur oleh kebanyakan pria single.

One of the major forces preventing young people from obeying the call of God into vocational Christian service is defeat in the area of lust. A teenager hears a challenging call to throw himself into the cause of world evangelization. He feels the promptings of the Holy Spirit. He tastes the thrill of following the King of kings into battle. But he does not obey because he is masturbating regularly. He feels guilty. He can hardly imagine witnessing to a pretty girl about the eternal plight of her soul, because he has so habitually looked at girls naked in his imagination. So he feels unworthy and unable to obey the call of God. Masturbation becomes the enemy of missions.

Salah satu penyebab utama yang mencegah anak-anak muda untuk taat kepada pangilan dari Allah untuk memasuki pelayanan dalam ke-Kristenan adalah karena kekalahan mereka didalam hal hawa nafsu. Seorang muda yang mendengar panggilan dan tantangan untuk menceburkan dirinya ke Misi Penginjilan. Dia merasa didorong/dipimpin Roh Kudus. Dia merasa bergetar/terharu didalam mengikuti Sang Raja dari segala raja untuk masuk kedalam medan pertempuran rohani. Tetapi dia tidak dapat mentaati panggilannya karena dia bermasturbasi secara teratur. Dia merasa bersalah. Dia dapat dengan luar biasa membayangkan secara nyata seorang wanita cantik didalam penderitaan jiwanya, karena dia telah terbiasa membayangkan wanita ”nakal” didalam pikirannya. Sehingga dia merasa tidak berharga dan tidak dapat taat pada panggilan Allah. Masturbasi menjadi musuh dari Misi Penginjilan.

Is masturbation wrong? Let me address the issue mainly for men. I cannot imagine sexual orgasm in the loins without sexual image in the mind. I know there are nocturnal emissions, which I regard as innocent and helpful, but I doubt that they are ever orgasmic apart from a sexual dream that supplies the necessary image in the mind. Evidently God has constituted the connection between sexual orgasm and sexual thought in such a way that the force and pleasure of orgasm is dependent on the thought or images in our minds.

Apakah masturbasi itu salah ? Saya akan mengangkat isu utama untuk kaum pria. Saya tidak dapat membayangkan kepuasan seksual tanpa bayangan dari hal seksual didalam pikiran. Saya mengetahui bahwa terdapat nocturnal emission, yang saya anggap tidak bersalah dan sangat membantu, tetapi saya ragu bahwa mereka pernah mengalami pemuasan secara seksual yang terpisah dari mimpi seksual yang menyediakan gambar yang diperlukan dalam pikiran. Allah secara nyata/jelas telah mengatur relasi antara kepuasan seksual dan seksualitas sedemikian rupa sehingga kekuatan dan kepuasan seksual tergantung pada pikiran atau imaginasi didalam pikiran kita.

Therefore in order to masturbate, it is necessary to get vivid and exciting thoughts or images into the mind. This can be done by pure imagination or by pictures or movies or stories or real persons. These images always involve women as sexual objects. I use the word “object” because in order for a women to be a true sexual “subject” in our imagination she must in reality be one with whom we are experiencing what we are imagining. This is not the case with masturbation.

Oleh karena itu didalam hal “masturbasi”, perlu untuk mendapatkan pikiran yang hidup dan menarik atau memasukkan gambaran yang menarik ke dalam pikiran. Hal ini dapat dilakukan dengan secara murni berimajinasi atau dengan menggunakan gambar atau menggunakan film atau menggunakan cerita-serita atau menggunakan orang-orang secara nyata. Gambaran-gambaran ini selalu melibatkan perempuan sebagai obyek seksual. Saya menggunakan kata "obyek" karena perempuan menjadi “subyek” seksual dalam arti yang sebenarnya pada imajinasi kita sehingga pada kenyataannya ia harus menjadi satu dengan hal yang sedang kita lakukan didalam imaginasi kita. Hal ini tidak terjadi didalam hal masturbasi.

So I vote no on masturbation. There may be other reasons why it is wrong. For now I rest my vote on the inevitable sexual images which accompany masturbation and which turn women into sexual objects. The sexual thoughts that enable masturbation do not help any man to treat women with greater respect. Therefore masturbation produces real and legitimate guilt and stands in the way of obedience.

Dengan demikian saya berpendapat : tidak untuk melakukan masturbasi. Mungkin masih banyak alasan-alasan lain mengapa hal ini adalah hal yang salah. Untuk saat ini saya berpendapat bahwa pada masturbasi tidak terelakkan untuk membayangkan imaginasi yang ber-content seksual dan menjadikan wanita sebagai obyek pelampiasan seksual. Pikiran yang berisi tentang seksual pada masturbasi tidak dapat menolong dalam hal apapun pada pria untuk memperlakukan wanita secara lebih hormat. Bagaimanapun, masturbasi akan secara nyata menghasilkan dan melegalkan kedua perasaan ini secara bersama sama yaitu perasaan bersalah dan keteguhan didalam ketaatan.

Three encouragements to single men:

1. You are not alone in the battle.

2. Periodic failure in this area no more disqualifies you from ministry than periodic failures of impatience (which is also a sin).

3. Pursue the expulsive power of a new affection. I walked by a whole section of “photography” books at the Walker Art Center last Thursday empowered by the better pleasure of feeling Christ conquer the temptation to look.


Tiga hal yang dapat mendorong pria yang masih lajang/belum menikah :

1. Anda tidak sendirian didalam pertempuran ini.

2. Kegagalan anda secara periodik/dalam waktu tertentu secara berulang , pada hal ini (masturbasi) akan menggagalkan anda dalam pelayanan anda secara lebih besar, daripada kegagalan secara berkala yang disebabkan karena ketidaksabaran (yang juga adalah dosa).

3. Mengejar kekuatan yang bersifat untuk mendapatkan afeksi-afeksi kudus yang baru. Pada saat saya berada di Walker Art Center pada hari Kamis yang lalu dimana saya mengikuti keseluruhan dari sesi ”photography” , tetapi saya dikuatkan oleh kesenangan/ kesukacitaan yang lebih baik didalam Kristus yang membuat saya menolak dan mengalahkan godaan untuk melihat dan menikmati sesi tersebut.

For the sake of your power,
Untuk menguatkan saudara.


Pastor John

Source : http://www.desiringgod.org/ResourceLibrary/TasteAndSee/ByDate/1984/1941_Missions_and_Masturbation/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar